Paradoks   2 comments

Manusia yang tahu akan hidup dan lingkungannya sendiri akan mengerti pentingnya mempertahankan idealismenya, karena, idealisme adalah mereka itu sendiri. Tanpa itu, mereka akan sama dengan orang lain, bahkan menjadi orang lain.

Tapi sayang, hal itu pahit. Satu hal dapat kita mengerti, dan satu hal lainnya tidak. Tapi kebanyakan, tidak dimengerti orang lain sialnya. Dan pada akhirnya, orang itu akan memilih untuk hidup sendiri, tanpa ingin untuk bergabung dengan manusia lainnya.

Mungkin benar, untuk mempelajari manusia, kita terlebih dahulu harus berubah bukan jadi manusia, karena kita harus menjaga jarak dengan apa yang kita amati alias tidak menjadi manusia. Sebuah paradoks, memang. Padahal saya sendiri ketika memilih mendalami bidang ilmu ini, tujuannya ingin merasakan bagaimana untuk lebih menjadi manusia, konsep manusia yang “manusia”.

Beruntung (dan entah kenapa saya selalu merasa beruntung) pada akhirnya saya dipertemukan kedalam sebuah keadaan dimana semua hal yang mapan menjadi berubah terjungkirbalik. Untuk merasakan menjadi “manusia”, saya harus berada dalam posisi puncak kemapanan, lalu terjun bebas dan terhantam kedalam antikemapanan. Semuanya akan terasa, baik senang dan sakit, bahagia dan sedih, bangga dan rendah diri, tangis dan tawa, semuanya. Maybe, to be human is to be vulnerable. This rapid change led me to that concept.

Runtuhnya idealisme, atau lebih tepatnya, kegagalan konsep ideal yang terlalu idealis itu rasanya, menyenangkan. So I know how vulnerable we are and that’s nice, like a lover turns out to be a friend, or, a friend to be none, perhaps. So I know that every good thing comes to and end we have to take every little piece of lesson and build them into another ideal concept which more idealistic than before. But surely, knowledge is painful, very painful.

PS: Postingan ini terlalu nyinyir, idealis (kali), dan konseptual, tapi tetap saja sampah. I admit it.

About these ads

Posted 31 March 2012 by Rizal in Blogs

2 responses to “Paradoks

Subscribe to comments with RSS.

  1. lovers-turned-friend?! ouch, that gotta hurt. hehehe
    nice share, bro. sama sekali bukan sampah :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 30 other followers

%d bloggers like this: