Sudah pernah nonton film Max Havelaar? Atau membaca novelnya? Kemarin beruntung sekali saya dapat menghadiri acara bedah film “Max Havelaar” yang diselenggarakan oleh Hima Sejarah Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran. Dan menurut saya, film yang pernah dicekal selama Orde Baru itu sangat mencerahkan. Max Havelaar sendiri, seperti yang sudah kita tahu, ditulis oleh Multatuli.
Film yang bersetting pada abad ke-19 itu menceritakan tentang seorang Belanda yang bernama Max Havelaar yang kemudian diangkat menjadi wakil pemerintahan Belanda di Lebak. Max Havelaar sendiri “agak” berbeda karakternya dengan Belanda lain. Dia lebih hormat kepada penduduk pribumi. Ketika temannya bertindak semena-mena terhadap pribumi, dia tidak segan-segan menamparnya.
Nah, adegan inilah yang benar-benar memberi saya pencerahan. Ketika itu ada dua orang Belanda yang sedang mengawasi para pribumi yang sedang mengangkut biji kopi ke kapal. Disana diperlihatkan bahwa orang-orang pribumi itu bertelanjang dada semua. Lain halnya dengan para meneer Belanda yang memakai seragam rapi. Ya, para penduduk pribumi itu tunduk hanya pada dua orang Belanda. Kemudian ketika seseorang pribumi menjatuhkan sekarung biji kopi, salah satu orang Belanda itu mengamuk dan para pribumi malah ketakutan, tidak melakukan perlawanan. Ironis sekali.

Perbedaan karakter yang sangat mencolok antara kaum pribumi dan Belanda sangat terlihat. Kaum pribumi yang cuma bisa tunduk, menerima apa adanya perlakuan yang mereka terima membuat Belanda bisa memerintah mereka dengan semena-mena.
