Multi Operating System   4 comments

Kadang-kadang kita membutuhkan beberapa sistem operasi di komputer kita. Misalnya, satu sistem operasi digunakan khusus untuk bermain game dan yang satu lagi digunakan untuk aplikasi kantoran, editing video atau gambar, dan lain-lain.

Sebenarnya, apa tujuan dari penggunaan multi operating system ini? Tujuannya adalah agar satu sistem tidak mengganggu sistem yang lainnya. Misalnya jika kita menginstal suatu aplikasi server seperti PHPTriad atau SQL Server, aplikasi ini menjalankan services yang dijalankan di background process yang tentu saja memakan memori. Walaupun sedikit memakan memori, tapi apa yang terjadi apabila dalam suatu sistem operasi kita memiliki Microsoft Office, Adobe Photoshop, ditambah dengan antivirus yang setiap saat melakukan scan memory? Tentu saja komputer akan menjadi lambat dan akan mengganggu pekerjaan kita.

Saya sendiri di komputer rumah memiliki tiga sistem operasi:

  1. Microsoft Windows XP Professional SP2: sistem operasi ini digunakan untuk kegiatan multimedia, game dan aplikasi Office, dan ini adalah sistem operasi utama.
  2. Microsoft Windows XP Professional SP2: kalau yang ini digunakan untuk pemograman dan database.
  3. Microsoft Windows Millenium Edition: yang ini merupakan cadangan apabila tiba-tiba yang lainnya hang.

Setiap OS tentu saja harus dalam partisi yang berbeda. Misalnya, saya memiliki partisi:

  • C: yang diisi oleh OS XP untuk multimedia (NTFS);
  • D: untuk data (NTFS);
  • E; untuk data (NTFS);
  • F: untuk data (NTFS);
  • *C: diisi oleh OS XP untuk pemograman (NTFS);
  • WINME: diisi oleh OS Windoes ME (FAT32);

Pada saat C: yang di-boot, otomatis drive *C: dan WINME: akan berubah statusnya menjadi hidden, karena jika tidak hidden maka komputer akan booting dengan 2 sistem operasi dan itu mustahil, sehingga otomatis komputer akan meng-hidden-kan OS yang tidak diset default. Drive D:, E:, F: terbaca sebagai extended drive dari drive C:, alias drive tambahan yang bisa difungsikan untuk menyimpan data.

Tetapi ketika saya booting dari drive *C: yang berisi XP, drive tersebut akan berubah menjadi drive C: secara otomatis. Ini dikarenakan OS XP harus di boot melalui drive yang C dan tidak bisa drive lain. Drive D:, E:, dan F: pun disini terbaca sebagai extended drive dari drive C:.

Pada saat booting dengan drive WINME yang berisi WinMe, drive yang lainnya berubah menjadi hidden sehingga tidak bisa di jelajahi. Entah karena Win Me tidak bisa membaca NTFS atau karena apa. Tapi untuk kebutuhan menjelajahi drive yang di hidden, Partition Magic telah menyediakan Drive Explore.

Masalah yang sering terjadi apabila memiliki multi os adalah ketika booting. Kadang sistem operasi yang baru diinstal tidak bisa kita boot atau malah sistem yang lama yang tidak bisa booting. Maka dari itu, dalam setiap sistem operasi saya memiliki aplikasi PartitionMagic. Untuk XP saya memakai versi 8 dan ME memakai versi 7. Dalam PartitionMagic 8 (PM8) terdapat tools yang bernama PQBoot. Tools ini sangat berguna untuk memilih sistem operasi yang akan dijalankan setelah me-restart komputer. Lain halnya dengan PartitionMagic 7 (PM7). PM7 memiliki tools yang bernama BootMagic.

BootMagic adalah sebuah aplikasi yang sangat berguna sebagai boot manager. Sebelum menggunakannya, harus dikonfigurasi dahulu seperti meng-enabled-kan BootMagic, memilih sistem operasi yang akan ditampilkan ketika kita booting, sistem operasi default, dan lama waktu pemilihan sistem operasi (timeout). Kelebihan BootMagic daripada PQBoot adalah BootMagic dijalankan sebelum masuk sistem operasi, sedangkan PQBoot dijalankan setelah masuk sistem operasi. Tentu saja jika memilih sistem operasi setelah masuk sistem operasi, maka kita harus me-restart kembali komputer kita.

Kelemahan dari multi os sendiri adalah kita tidak bisa menggunakan aplikasi yang kadang dibutuhkan pada waktu yang sama. Misalnya, di os yang pertama ada Photoshop dan di os yang kedua ada Visual Basic untuk pemograman. Ketika mendesain sebuah tombol, mungkin kita perlu image editor seperti Photoshop dan terpaksa harus pindah os dengan cara restart pc. Tentu saja hal itu sangat membuang waktu. Kemudian masalah antivirus. Kita tidak bisa meninggalkan antivirus, karena sangat berbahaya apabila terinfeksi. Dengan kata lain, setiap os harus mempunyai antivirus dan itu akan menghabiskan ruang di harddisk.

Kesimpulannya, penggunaan multi os memang tidak mutlak harus dilakukan, tetapi sesuai kebutuhan. Jika memang pc anda speknya rendah dan ingin menginstal segala aplikasi dan tidak ingin kinerja aplikasi lain terganggu, tidak ada salahnya mencoba multi os. Tetapi jika komputer anda memiliki spek yang tinggi dan dapat meng-handle semua aplikasi, mungkin lebih baik cukup dengan satu sistem operasi saja.

Posted 30 August 2008 by Rizal in Komputer

Tagged with , ,

4 responses to “Multi Operating System

Subscribe to comments with RSS.

  1. Pingback: Jack

  2. Pingback: HollyT

  3. wah ,
    kayanya 2 komen diatas spam .
    ati” ahh

  4. Pingback: Stilts

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: