Ah, Politik   1 comment

Salah satu hal yang paling saya hindari adalah politik, baik itu membicarakannya maupun bermain di dalamnya. Mengapa? Karena politik itu seringkali kotor, najis. Tetapi, lambat laun jadi gemes juga ingin menyampaikan pendapat dalam bidang yang satu ini. Karena setelah dipikir-pikir, ternyata politik dapat mencakup segala sesuatu, baik itu budaya, pendidikan, sains, agama, hukum, dan lain sebagainya. Maka dari itu, politik merupakan pondasi dari sebuah pemerintahan. Bila politiknya baik, maka baiklah negara itu, dan sebaliknya.

Lalu bagaimana dengan politik di Indonesia? Tak perlu ditanyakan lagi, jelaslah politik di Indonesia itu bisa dibilang buruk, jika kita bandingkan dengan negara Asia lainnya seperti Korea Selatan dan tetangga kita, Malaysia. Tetapi, kok membandingkan dengan Korea Selatan yang jelas-jelas jauh lebih maju ketimbang negara kita? Kalau tidak mau dibandingkan dengan negara maju, lalu kapan kita majunya!

Saya mengambil satu contoh kecil tentang politik ekonomi negara Ginseng tersebut, misalnya dalam hal impor barang luar negeri. Korea Selatan tidak mengimpor ponsel, sehingga perkembangan ponsel disana cukup maju, terbukti dengan adanya perusahaan ponsel besar seperti Samsung dan LG. Terlebih lagi, masyarakat disana cinta dan bangga akan produk dalam negeri, sehingga tingkat ekonomi negara tersebut sangat baik. Walaupun pada akhirnya pemerintah Korea Selatan membolehkan impor iPhone produksi Apple karena demandnya tinggi, hal itu  dianggap sebagai kecolongan besar bagi mereka.

Di Indonesia sendiri, impor sudah bukan sebuah aib lagi. Atas nama perdagangan bebas, barang-barang produksi luar negeri bebas masuk ke negara ini, sehingga produsen lokal pun terabaikan. Atas nama investasi dan penanaman modal, pihak asing bebas mengeksploitasi negeri kita ini, sampai rakyat yang menghuni negeri ini hanya kebagian ampas-ampas dari sumber daya yang melimpah.

Bukan saya berpendapat haram untuk mengimpor, tetapi kuantitasnya dan produk yang diimpornya harus tepat. Masa beras saja harus mengimpor, padahal Indonesia memiliki tanah yang subur dan luas. Lalu ini tanggung jawab siapa? Tentu saja pemerintah, selaku pemegang kebijakan politik ekonomi. Kita pun sebagai warga negara Indonesia memiliki tanggung jawab tersebut. Yang dapat kita lakukan adalah minimal menciptakan dan menggunakan produk dalam negeri. Tetapi apakah kebijakan yang dibuat oleh pemerintah sudah mendukung proses penciptaan dan pengembangan produk dalam negeri secara maksimal? Kembali lagi kita harus pertanyakan itu kepada para pejabat dan wakil rakyat di negeri kita ini.

Pemerintah masih belum maksimal dalam mengurus negeri ini. Ataukah ini merupakan suatu kesalahan sistemik dari sistem pemerintahan kita? Kalau begitu, sistem pemerintahannya yang harus diganti. Ya, kita butuh reformasi. Reformasi total.

Najis pun harus dibersihkan, kan?

Posted 11 November 2010 by Rizal in Blogs

Tagged with , , , , , , , ,

One response to “Ah, Politik

Subscribe to comments with RSS.

  1. Pingback: Max Havelaar « Experience is Priceless

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: