Max Havelaar   2 comments

Sudah pernah nonton film Max Havelaar? Atau membaca novelnya? Kemarin beruntung sekali saya dapat menghadiri acara bedah film “Max Havelaar” yang diselenggarakan oleh Hima Sejarah Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran. Dan menurut saya, film yang pernah dicekal selama Orde Baru itu sangat mencerahkan. Max Havelaar sendiri, seperti yang sudah kita tahu, ditulis oleh Multatuli.

Film yang bersetting pada abad ke-19 itu menceritakan tentang seorang Belanda yang bernama Max Havelaar yang kemudian diangkat menjadi wakil pemerintahan Belanda di Lebak. Max Havelaar sendiri “agak” berbeda karakternya dengan Belanda lain. Dia lebih hormat kepada penduduk pribumi. Ketika temannya bertindak semena-mena terhadap pribumi, dia tidak segan-segan menamparnya.

Nah, adegan inilah yang benar-benar memberi saya pencerahan. Ketika itu ada dua orang Belanda yang sedang mengawasi para pribumi yang sedang mengangkut biji kopi ke kapal. Disana diperlihatkan bahwa orang-orang pribumi itu bertelanjang dada semua. Lain halnya dengan para meneer Belanda yang memakai seragam rapi. Ya, para penduduk pribumi itu tunduk hanya pada dua orang Belanda. Kemudian ketika seseorang pribumi menjatuhkan sekarung biji kopi, salah satu orang Belanda itu mengamuk dan para pribumi malah ketakutan, tidak melakukan perlawanan. Ironis sekali.

Perbedaan karakter yang sangat mencolok antara kaum pribumi dan Belanda sangat terlihat. Kaum pribumi yang cuma bisa tunduk, menerima apa adanya perlakuan yang mereka terima membuat Belanda bisa memerintah mereka dengan semena-mena.

Kemudian, ada adegan ketika Raja Lebak makan malam dengan seorang wakil pemerintahan Belanda. Terlihat sekali bahwa raja tersebut tunduk kepada Belanda. Dia dan ajudan-ajudannya sangat menghormati orang Belanda tersebut, entah karena takut atau memang itu sikap yang sudah seharusnya dilakukan di lingkungan itu. Ajudan-ajudannya sendiri duduk di lantai, sedangkan raja dan orang Belanda tersebut duduk rapi di meja makan.

Sekarang jika kita bandingkan dengan keadaan saat ini, apa bedanya? Apa bedanya jaman kolonialisme dengan jaman sekarang? Bangsa kita tetap menjadi suruhan orang-orang Barat. Para pemerintah menjalin hubungan baik dengan para investor asing, yang notabene mengambil kekayaan alam Indonesia. Politik, ekonomi, budaya, hal apalagi yang belum dikontrol oleh asing? Singkatnya, BANGSA KITA MASIH DIJAJAH OLEH BANGSA LAIN.

Lalu, masihkah kita harus berpura-pura bahwa kita sudah merdeka?

Posted 14 December 2010 by Rizal in Blogs, Event

Tagged with , , , ,

2 responses to “Max Havelaar

Subscribe to comments with RSS.

  1. istilah “suruhan” mungkin sudah tidak tepat ya. tapi bahwa mental kita masih belum berubah dan cenderung lemah di depan orang asing memang benar. sayang sekali kan :(

  2. kalo menurut saya sih cocok-cocok aja, soalnya memang kenyataannya begitu, hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: