Trip to Kepulauan Seribu, Pulau Pramuka dan Pulau Semak Daun   1 comment

Yep finally, I got my holiday! Kali ini, saya dan teman-teman pergi ke Kepulauan Seribu, tepatnya ke Pulau Pramuka dan Pulau Semak Daun. Rencana awalnya sih ke Lombok atau ke Pulau Sempu, tapi berhubung dana yang terbatas dan jadwal kuliah yang makin mendekat, akhirnya kita memutuskan pergi ke Pulau Pramuka. Seneng banget akhirnya kita jadi pergi, karena saya sendiri ingin cepat-cepat meninggalkan kesumpekan rutinitas kuliah lah dan segala macam tektek bengeknya.

Budget yang dibutuhkan masih terbilang affordable. Saya sendiri hanya membawa uang sekitar Rp 300.000. Kita berangkat dari Jatinangor, memakai angkot ke terminal Cileunyi dan berangkat ke Jakarta memakai bus Prima Jasa dengan ongkos Rp 26.000 dan turun di Terminal UKI. Berhubung kita berangkat pukul 12 malam dan sampai di Jakarta pukul 2 pagi, kita nunggu busway dulu di 7 Eleven Matraman.

Dari halte busway Matraman, kita ke halte Ancol. Tujuan kita sebenarnya sih ke Muara Angke, dan di Ancol rencananya kita nyari angkot kesana. Tapi kita malah dipusingin sama sopir angkot yang bikin kita muter-muter Jakarta dulu, jadi malah naik beberapa kali angkot untuk sampai di Muara Angke.

Sesampainya di Muara Angke, kita langsung nyari boat yang ke Pulau Pramuka. Ternyata, boat yang kita tumpangi kebetulan sudah dibooking sama anak Fisip Unpad juga yang mau praktikum ke Pulau Pramuka, meneliti perubahan administrasi dari kecamatan ke kabupaten. Di boat itu juga kita ketemu ama Bang Jamal, penduduk asli Pulau Pramuka. Disana kita mulai ngobrol-ngobrol dan akhirnya jadi rada deket juga. Karena keterbatasan budget kita, dia nawarin rumahnya buat penginapan kita. Padahal, harga penginapan disana berkisar Rp 250.000 – Rp 400.000 per malam.

Perjalanan laut dari Muara Angke ke Pulau Pramuka cukup berat, mengingat cuaca yang sedikit buruk. Angin lumayan kenceng, dan ombak yang gede-gede membuat boat kita goyang-goyang. Saya sendiri memilih untuk tidur. Pas bangun, tau-tau kita udah berlabuh di Pulau Onrust untuk beristirahat dan menunda perjalanan kita karena cuaca. Sialnya, cuaca tak kunjung membaik dan anak-anak Fisip Unpad diinstruksikan oleh dosennya untuk membatalkan perjalanan dan kembali ke Jakarta. Kita sendiri sebagai penumpang gelap terpaksa ikut mereka kembali ke Muara Angke.

Setelah melalui perundingan yang cukup alot antara meneruskan perjalanan ke Pulau Pramuka atau berwisata di Jakarta saja, maka kita akhirnya memilih meneruskan perjalanan ke Pulau Pramuka, karena sebenarnya salah satu teman saya sudah cape melakukan perjalanan laut dan ingin kembali ke Jakarta. Bang Jamal juga ngasih tau ke kita, kalo misalnya udah nyampe sana, pasti ga akan nyesel, soalnya dia juga bakalan ngajak jalan-jalan kita. Perjalanan ke Pulau Pramuka pun dilakukan kembali mulai pukul 14.30, dan kali ini dengan terpaksa kita harus bayar, karena status kita bukan nebeng sama anak Fisip lagi :p

Tidak seperti yang kita perkirakan, keadaan laut ternyata tidak membaik. Gelombang laut masih cukup besar. Perjalanan kita yang diprediksikan akan sampai pukul 16.30 paling lama ternyata malah molor sampai jam 18.00. Tapi semangat kita makin bertambah setelah berlabuh di Pulau Pramuka, karena pulau ini cukup indah dan lautnya pun berwarna biru, tidak seperti di Muara Angke yang penuh dengan limbah :|

Malam pertama di pulau ini diisi dengan mempersiapkan tempat tidur kita di rumah Bang Jamal dan bersantai-santai di dermaga sambil main gitar. Rencananya, kita besok akan snorkeling di Pulau Semak Daun, pulau yang memiliki pantai yang bagus dan tidak berpenghuni.

Esok paginya, kita berkenalan dengan Bang Herman, temannya Bang Jamal. Dia juga bakal nemenin kita ke Semak Daun. Sebelum ke Semak Daun, kita menyewa peralatan snorkeling dulu yang terdiri dari goggle, sepatu katak dan pelampung, satu setnya Rp 25.000 di penyewaan Bayu. Setelah itu, kita pergi ke dermaga dan menyewa boat seharga Rp 250.000. Harga-harga tersebut tentu saja sudah ditawar terlebih dahulu oleh Bang Jamal, hehe. Bang Jamal baik yah :p

Perjalanan dari Pramuka ke Semak Daun memakan waktu sekitar setengah jam. Sesampainya di Semak Daun, ternyata benar, pulau itu indah! Pasirnya putih, lautnya bersih dan pantainya bagus. Dan dermaga disana bisa menjadi background yang bagus juga buat foto-foto :p. Disana kita langsung snorkeling, main pasir dan masak mie, karena memang kita belum sempet sarapan.

Bermain snorkeling itu ternyata mudah, tidak perlu bisa berenang karena menggunakan pelampung. Teman saya saja yang tidak bisa berenang langsung ketagihan. Belum lagi kita bisa melihat dalemnya laut itu gimana. Laut di Semak Daun sendiri sebenarnya tidak banyak yang bisa dilihat, paling hanya ada rumput laut dan ikan-ikan kecil.

Setelah puas menikmati Semak Daun, kita tidak langsung pulang ke Pulau Pramuka, tetapi ke spot terumbu karang dulu di tengah laut. Kita snorkling lagi, dan kali ini tempatnya luar biasa! Kita bisa lihat keindahan karang disini, dan ikan-ikan yang berwarna-warni.

Setelah bermain snorkeling untuk kedua kalinya, rencananya kita akan makan di restoran tengah laut. Tapi setelah dipikir-pikir, harganya relatif mahal dan mending makan di tempat biasa saja. Disana bukannya makan, kita malah liat-liat penangkaran ikan hiu dan makan bulu babi. Ya, atas anjuran Bang Jamal, kita makan bulu babi. Ga haram ko, hehe, karena sebenarnya bulu babi itu hewan laut. Saya pun heran, ternyata itu adalah hewan, bukan tumbuhan setelah melihat bulu babi ternyata bisa jalan, ga tau deh kakinya sebelah mana. Bulu babi itu katanya penuh dengan protein. Rasanya sendiri menurut saya lumayan amis, jadi agak mual gitu.

Malam terakhir di Pulau Pramuka ini diisi dengan bakar-bakar ikan dan cumi di dermaga. Dengan skill memasak yang pas-pasan dan dibantu oleh Bang Jamal dan Bang Herman, akhirnya ikan bandeng yang kita bakar jadi juga dan enak, kalo yang cumi mah agak sedikit diluar dugaan, tapi ya lumayan lah. Kita juga kebetulan ketemu dengan Bupati sini yang kebetulan lagi main di dermaga dengan sepedanya. Dia ngobrol, ternyata anaknya juga anak Fikom Unpad. Dia nawarin anaknya kita ke rumahnya buat main. Saya sendiri ga ikutan, tapi Dika, Addan, Artho dan Ady kesana dan ketemu dia. Ternyata disana mereka ketemu anak-anak Fikom cowo yang lainnya, dan mereka mengajak main futsal untuk besok paginya. Aneh, sudah jauh-jauh ke pulau, masih aja ketemu anak Unpad. Mana kampusnya sebelahan lagi, Fisip ama Fikom :|

Dan ternyata pas paginya kita bangun telat, jadi batal main futsal ama anak-anak Fikom. Tapi futsalnya jadi sih di taman di pulau ini. Tamannya bagus, kaya alun-alun kota gitu. Setelah itu, kita siap-siap pulang, karena jadwalnya boat itu berangkat jam 7.

Pas di perjalanan pulang, lautnya tenang, sehingga boat kita ga goyang-goyang dan perjalanan lebih nyaman. Selain itu, perjalanan jadi lebih cepat, cuma membutuhkan 2 jam, beda dengan pas kita berangkat yang membutuhkan waktu seharian karena perlu bolak-balik. Dari Muara Angke, kita sempet jalan-jalan dulu ke Kota Tua dan ke Hotel Borobudur, tempat ibunya Nana nginep. Kita sih sebenarnya numpang mandi aja disana :D

Setelah itu, kita melanjutkan perjalanan ke Terminal Lebak Bulus melalui busway. Perjalanan ini juga penuh dengan insiden, kaya ngantri lama lah, macet lah, sampai-sampai ada temen saya yang ketinggalan di halte. Dari Lebak Bulus lanjut ke Cileunyi, abis itu ke Jatinangor, dan sampai lah kita kembali ke peraduan.

That was a memorable trip, fellas. So, what’s next?

One response to “Trip to Kepulauan Seribu, Pulau Pramuka dan Pulau Semak Daun

Subscribe to comments with RSS.

  1. Sorry mau nanya, punya nomornya bang jamal nya ga? Mohon info. Thanks

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: